SKENARIO “Membangun Konflik yang Dramatik”

Standar
DIKUTIP DARI  : Marhalim Zaini

Marhalim Zaini
BERBICARA tentang “konflik” dalam fiksi, sebetulnya a masih terkait dengan tema “bengkel sastra” kita minggu lalu, yakni tentang plot. Sebab, di dalam struktur plot terdapat peristiwa-peristiwa yang menyulut terjadinya konflik. Dan adik-adik mungkin ingat, bahwa dalam plot ada tahapan-tahapan. Misalnya, yang umum, mulai tahap situation, atau tahap pengenalan tokoh dan situasi latar cerita. Kemudian tahap pemunculan konflik, terus menanjak ke tahap peningkatan konflik (rising action), sampai menuju tahap klimaks, dan terakhir tahap penyelesaian.

Jadi, yang menggerakkan plot itu adalah konflik-konflik. Jika dalam karya fiksi kita tak ada konflik, maka pasti karya kita itu akan terasa hambar. Datar-datar saja. Dan membosankan untuk dibaca. Sudah pasti pula, plot karya kita tak berkembang. Padahal, sebuah karya naratif (seperti cerpen dan novel), yang paling digemari pembaca adalah peristiwa-peristiwa konfliknya.

Nah, jika dalam kehidupan kita sehari-hari, kita cenderung menghindar dari terjadinya konflik, maka dalam karya fiksi justru harus menghadirkan konflik. Jika dalam kehidupan nyata, konflik itu lebih berkonotasi negatif, dalam karya fiksi justru bernilai positif. Meskipun sesungguhnya, kalau kita mau sedikit menyadari, pernahkah hidup kita ini terlepas dari konflik?

Konflik yang seperti apa? Banyak sekali jenisnya. Sebab kalau merujuk pada definisi konflik itu sendiri, yakni sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang kita alami, maka tentu cukup banyak hal-hal yang tak menyenangkan dalam kehidupan kita sehari-hari, bukan?. Nah, adik-adik, biasanya, bentuk konflik dalam fiksi dibagi menjadi dua kategori: konflik fisik (eksternal) dan konflik batin (internal).

Maka, mulailah adik-adik timbang-timbang, mau buat cerita dengan lebih banyak mengandung konflik batin, atau mungkin lebih suka menghadirkan konflik fisik. Konflik batin, adalah konflik yang terjadi dalam batin/jiwa tokoh ceritanya, kerap pula disebut konflik psikologis. Konflik yang terjadi akibat dari, misalnya, pertentangan keyakinan satu tokoh dengan tokoh lain, perbedaan keinginan, perbedaan sikap, perbedaan pilihan, dan lain-lain.
Sedangkan konflik fisik, tentu adik-adik tahu. Konflik yang terjadi di luar diri si tokoh cerita. Bisa terjadi antara seseorang dengan alam, misalnya konflik akibat bencana alam, dan sebagainya. Bisa pula konflik terjadi antara seorang tokoh dengan tokoh lainnya, konflik dari hubungan antara-manusia. Konflik antar-manusia inilah yang mungkin seringkali kita temukan dalam banyak cerita fiksi.

Tetapi, perlu adik-adik ketahui, bahwa antara konflik batin dan konflik fisik, tidaklah serta merta dapat dipisahkan dalam sebuah pengisahan cerita. Sebab ia saling terkait, saling dapat menimbulkan sebab-akibat terjadinya satu peristiwa dengan peristiwa yang lain. Atau, boleh jadi, justru konflik itu terjadi secara bersamaan. Seorang tokoh dalam cerita yang sedang patah hati misalnya, karena ditinggalkan sang kekasih, pada awalnya mengalami konflik batin, karena jiwanya goncang. Juga dapat disebabkan oleh konflik batin lain, misalnya, karena ketidak-cocokan dalam pilihan-pilihan hidup, atau karena perbedaan keyakinan.

Nah, konflik batin itu pula, bukankah juga bisa menyebabkan terjadinya konflik fisik. Misalnya sampai pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh si tokoh yang patah hati ini. Tindakan-tindakan fisik yang juga bisa melibatkan tokoh lain di luar dirinya, seperti keluarga, dan lain-lain. Tentang apakah wujudnya konflik tersebut, bagaimana konflik itu “bekerja” dalam cerita kita, tentu kreativitaslah yang dituntut di sini.

Menurut pendapat saya,

Artinya, konflik-konflik itu bisa menjadi biasa saja kekuatannya, menjadi tidak menarik, tidak dramatik, dan tidak dapat membangun suspense (kejutan) dalam diri pembaca, jika kita tak mampu mengolahnya dengan kreatif. Tema konflik boleh jadi biasa saja, sesuatu yang kerap dirasakan oleh banyak orang, tapi cara kita menceritakan konflik itu yang membuatnya berbeda.

Untuk sampai ke sana, salah satu dari sekian banyak cara atau trik yang dapat ditempuh oleh para penulis adalah dengan membuat konflik dari peristiwa yang seru, bisa sensional, dengan koflik-konflik yang kompleks. Konflik yang terus menanjak, menuju klimaks, dengan memainkan berbagai sudut pandang penceritaan. Selain itu, terus pertajam, dengan memperdalam detil dalam setiap konflik.

Sebagai kasus, bisa kita simak konflik-konflik yang terjadi dalam cerpen yang termuat edisi ini, “Sepasang Mata Cahaya” karya Muflih Helmi. Di awal cerita, Muflih sudah membuka dengan konflik fisik. Sebuah kecelakaan menimpa sang tokoh. Akibat dari konflik itu, kemudian tokoh menanggungkan konflik batin, karena ia buta. Bertambah pula konflik batin itu ketika ia bertemu dengan tokoh lain, yang kemudian jadi kekasihnya. Sampai konflik pun berkem-bang ketika di ujung cerita justru ia menemukan kenyataan bahwa kekasihnya itulah yang mendonorkan matanya. Di ujung cerita ini pula Muflih nampaknya juga mencoba memainkan plot, sebab di sana ada suspense. Meski, dapat kita rasakan juga, plot di tengah, agak lemah, dan kedodoran.

Untuk puisi, ada Satriani, dengan “Menunggu Hujan.” Metafora hujan dimainkan dalam imaji-imaji yang cukup padat, dengan diksi yang juga padat. Ada suasana yang terbangun sebagai peristiwa menunggu hujan, yang kemudian bermuara pada konflik batin si aku-lirik. Meski, memang, terasa juga Satriani masih belum lentur memainkan bahasa, sehingga masih ada kesan tidak kokoh bangunan puisi ini.

Berikut ada puisi “Malam Berpulang” karya May Moon Nasution. Puisi ini telah berupaya mencoba membangun dirinya dengan simbol-simbol alam. Meskipun simbol-simbol itu, terasa belum menyatu dalam keseluruhan puisi. Tiap bait seperti membangun dirinya sendiri. Selain bahwa May Moon mencoba pula bermain rima, menyusun baris-baris dengan persajakan, meski masih terkesan ada yang dipaksakan.

Puisi berjudul “Teroris Cinta” karya Muhammad, terasa lebih segar dan terang. Segar karena ia mencoba me-nawarkan sebuah permainan logika, yang sederhana. Terang, karena memakai diksi yang “cair” dan tidak gelap. Puisi pendek ini cukup mencuatkan kreativitas Muhammad dalam memainkan gagasan dalam puisi. Tema cinta, digarap dengan suasana pertempuran, yang fisik sekaligus yang psikologis.

Terakhir puisi “Perahu” karya Irma Safitri. Sebuah puisi yang cukup padu kalau dibaca dari metafor laut yang dibangun. Di sisi lain juga terasa agak “kaku” lidah pembaca ketika menelisik dari satu kata ke kata yang lain. Kaku, bisa tersebab sejumlah diksi dipilih dari bahasa lokal, juga kaku bisa disebabkan penempatan diksi itu yang demikian padat. Tapi, Irma punya potensi untuk mencipta puisi yang kuat, jika maut erus belajar mengurai sisi-sisi “yang gelap” dari puisinya ini.***

One response »

  1. Setiap kehidupan kita pasti banyak mempunyai konfilk,, jadi kita hartus memposisikan diri kita dalam mengambil sikap & berfikir bijak dalam mengambil keputusan,,,

    Bener,,, Musibah terjadi karena ada masalah dalam diri kita,, tapi ujian itu datangnya dari Allah,, dialah yang mengatur urusan setiap hambanya,,, Good lucky,,,

    Sukses bwt sobat UG semua,,,,^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s