CYBERCRIME DAN PENANGGULANGANNYA

Standar

Kejahatan dunia maya (Cybercrime ), merupakan kejahatan yang berakibat fatal dan sulit untuk dijaga secara fisik, lalulintas transaksi di dalam elektronik bisa dikatakan terjadi lebih kurang seribu dalam 1 detiknya di dunia, perjalanan transaksi Bursa berjangka pun tidak luput dari transaksi di dunia maya, termasuk ketika kita lakukan ketika masuk ke mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) termasuk pengintaian pelaku kejahatan.

Beberapa bulan lalu kita mendengar kejadian di Bali Indonesia, terjadinya kejahatan cybercrime , korban dari informasiĀ  nasabah Bank Central Asia (BCA) , kemudia muncul beberapa bank seperti BNI dan bank lainnya, hal tersebut menurut informasi dari bagian Informasi dan Teknologi forensik kepolisian Indonesia berasal dari kartu yang digandakan , proses penggandaan adalah dari melakukan duplikasi data dari pita magnetic yang ada di dalam kartu untuk disimpan kedalam media penyimpanan ukuran kecil dan di gandakan ke kartu lain, dengan hal tersebut maka semua data dalam kartu akan tergandakan dan dapat melakukan transaksi dengan sama seperti kartu utama.

Hal itu terjadi karena adanya kerjasama perorangan dalam bank dengan vendor maintenance mesin, artinya hal tersebut akibat pelaku kejahatan orang bank itu sendiri.

Kini Bank Central / Bank Indonesia melakukan kebijakan proses kartu yang diterbitkan oleh Bank di Indonesia harus menggunakan chip, dengan alasan akan lebih aman. Bahkan banyak bank yang memberikan informasi di setiap mesin ATM untuk cara menanggulangi kejahatan tersebut dengan cek mesin dan sebagainya.

Penulis berpendapat, apapun yang dilakukan oleh nasabah untuk cek mesin tidak semudah itu dilakukan, apalagi pelaku adalah pegawai bank itu sendiri .

SOLUSI

Penulis berpendapat, jalan satu-satunya untuk menghindari kejahatan bukan dengan cara melihat mesin dan apapun yang mungkin pembaca lihat di mesin-mesin ATM, tapi kunci utamanya adalah bantasan pengambilan, seringnya nasabah yang tidak sadar batasan pengambilan yang di bebaskan besar akan membuat nasabah bebas, tapi sesunggunya batasan itu membuat keamanan nasabah aman, seandainya nasabah diberi batasan ATM Rp.2.000.000 sebatas mengambil untuk perjalanan atau untuk keperluan mendesak, tidak akan terjadi lepas kendali sampai miliyaran rupiah transfer atau pengambilan 80 juta. Mungkin anda bertanya, bagaimana kalau butuh transfer dana untuk besar ? , hal tersebut bisa dilakukan dengan melakukan upgrade / peningkatan limit sementara dengan telepon ke pusat pelayanan 24 Jam bank masing-masing tentunya dengan proses veryfikasi, setelah proses peningkatan limit terjadi nasabah bisa transfer dana atau pengambilan dana, dan melakukan kontak ke pusat pelayanan kembali untuk di tutup kembali limit yang kecil.

Memang proses harus melakukan kontak awal dan akhir, tapi ini adalah proses yang paling aman untuk menjaga saldo rekening agar tetap aman dari resiko kejahatan.

Chip yang ada dalam kartupun masih tidak bisa dikatakan aman karena proses bisa dilakukan berulang oleh merchant kartu atau dengan internal yang ditempel di mesin ATM.

(Untuk TUGAS Etika dan Profesionalisme TSI – DOSEN NINA MEINA RAHMAWATI )

17109340 -> KURNIA YUDHA UTAMA ( 4KA21 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s