Asuransi Syari‘ah Dalam Perspektif Mahasiswa UG

Standar

Syariah adalah Pola atau tatanan Ekonomi yang berlandaskan Islam.

Oleh : Kurnia Yudha Utama

Beberapa waktu lalu Shariah Ekonomi Forum (SEF) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi UG  menyelenggarakan seminar dan workshop dengan tema Pokok Asuransi Syari‘ah. Tema ini menarik,  di samping karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan ekonomi syari‘ah, juga bisa menjadi lahan baru bagi mahasiswa untuk memperkaya kazanah keilmuan di bidang asuransi. Bahkan di sisi lain, bisa juga menjadi jembatan untuk meraih sukses di masa depan.

Banyak contoh kesuksesan diraih saat meniti karier di dunia asuransi. Tak masalah, apakah asuransi itu konvensional atau yang syari‘ah. Keduanya menyediakan  lahan yang subur untuk disemai menjadi sumber kehidupan di masa mendatang. Khusus untuk  asuransi syari‘ah, di samping di dalamnya terdapat konsep  berasuransi secara universal, juga  terdapat nuansa syari‘ah dalam standar penerapannya. Asuransi syari‘ah  menurut Dewan Syari‘ah Nasional adalah usaha untuk saling melindungi  dan tolong menolong di antara sejumlah  orang melalui  investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru‘ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko atau bahaya  tertentu melalui akad yang sesuai syari‘ah. Asuransi Syari‘ah disebut juga asuransi  ta‘awun  yang artinya tolong menolong atau saling membantu dan bukan bertujuan untuk mencari keuntungan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa asuransi ta‘awun prinsip dasarnya adalah syari‘ah, yakni saling toleran terhadap sesama manusia  untuk menjalin kebersamaan  dalam membantu dan meringankan  bencana yang dialami peserta.

Perkembangan

Saat  ini   ada beberapa  perusahaan asuransi  yang telah  menerapkan prinsip syari‘ah secara penuh, di antaranya  Asuransi Takaful Keluarga, Asuransi Takaful Umum, Asuransi Mubarokah. Selain itu, ada juga beberapa perusahaan asuransi konvensional yang membuka  cabang syari‘ah, seperti; MAA, Great Eastern, Tripakarta, Bumi Putra, Principle, Beringin Life, Jasindo, Darmala Manulife. dan lainnya. Perkembangan asuransi syari‘ah  sendiri dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Perkembangan yang terjadi  tidak hanya di negeri muslim atau berpenduduk mayoritas muslim, tapi juga non muslim. Bahkan bisnis penjaminan risiko syari‘ah tersebut  saat ini mulai merambah ke sejumlah negara barat, seperti; AS dan negara-negara Eropa.  Salah satu faktor penyebabnya  adalah potensi dana investasi bersumber  premi asuransi  syari‘ah yang cukup besar.

Di Indonesia, munculnya  asuransi syari‘ah  pertama kali tak lepas  dari nama Asuransi Takaful yang dibentuk  oleh holding company PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) pada tahun 1994. Terbentuknya Asuransi Takaful saat ini memperkuat  keberadaan lembaga perbankan syari‘ah yang sudah ada terlebih dulu, yakni Bank Muamalat  karena asumsinya Bank Muamalat  juga membutuhkan lembaga  asuransi  yang dijalankan dengan prinsip yang sama.Pembentukan awal Takaful disponsori oleh yayasan Abdi Bangsa, Bank Muamalat Indonesia dan Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Saat itu para wakil dari tiga lembaga ini membentuk Tim Pembentukan Asuransi takaful Indonesia atau TEPATI. Sebagai langkah awal, lima orang anggota TEPATI melakukan studi banding ke Malaysia pada September 1993. Malaysia memang merupakan  negara ASEAN pertama yang menerapkan asuransi dengan prinsip syari‘ah sejak tahun 1985. Di negeri jiran ini, asuransi syari‘ah dikelola  oleh Syarikat Takafu Malaysia Sdn.Bhd.Setelah berbagai persiapan dilakukan, di Jakarta pun digelar seminar nasional. Berikutnya  STI mendirikan PT Asuransi Takaful Keluarga dan PT Asuransi Takaful Umum. Secara resmi PT Asuransi Takaful  Keluarga  didirikan  pada 25 Agustus 1994 dengan modal setor sebesar Rp 5 miliar. Sedangkan PT Asuranssi  Takaful Umum didirikan pada  2 Juni 1995

Konsep Dasar

Ajaran Islam memerintahkan umatnya untuk menyantuni orang yang kehilangan harta benda, kematian kerabat maupun musibah lainnya. Tindakan tersebut merupakan wujud  kepedulian dan solidaritas (itsar), serta tolong menolong (ta‘awun) antar warga masyarakat, baik muslim maupun non-muslim. Dengan cara demikian  rasa persaudaraan (ukhuwah) akan semakin kokoh.Akan tetapi cara-cara penyantunan itupun harus sejalan dengan syari‘at (QS 42:13). Tidak boleh mengandung unsur  gharar (ketidakpastian), maysir (untung-untungan), riba (bunga) dan hal-hal lain yang bersifat maksiat. Dengan kata lain,  ta‘awun harus diletakkan di atas nilai-nilai ketakwaan dan kebajikan dan bukan pelanggaran hukum syari‘ah yang dapat menimbulkan  pertentangan atau permusuhan. “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa, dan jangan kalian saling tolong-menolong  dalam dosa dan permusuhan�? (QS  5:12)

Asuransi syari’ah merupakan sistem alternatif, atau tepatnya pengganti  atas pola asuransi konvensional yang menerapkan sistem akad  pertukaran yang tidak sejalan dengan syari’at Islam. Pada sistem asuransi syari’ah, setiap peserta bermaksud  tolong menolong satu sama lain  dengan menyisihkan sebagian dananya sebagai iuran kebajikan (tabarru’). Dana inilah  yang digunakan untuk menyantuni  siapa pun di antara para peserta  asuransi yang mengalami musibah. Jadi bukan dalam bentuk akad pertukaran  di antara dua pihak, melainkan akad untuk saling tolong menolong (takafuli) di antara semua peserta atau anggota.
Terdapat perbedaan mendasar antara asuransi syari’ah dengan konvensional. Perbedaan tersebut adalah :
1) Asuransi syari‘ah  memiliki Dewan Pengawas Syari‘ah (DPS) yang bertugas mengawasi  produk yang dipasarkan  dan pengelolaan investasi dananya, yang tidak ditemukan dalam asuransi konvensional.
2) Akad yang dilaksanakan pada asuransi syari‘ah berdasarkan tolong menolong, sedangkan asuransi konvensional berdasarkan jual beli.
3) Investasi dana pada asuransi syari‘ah berdasarkan bagi hasil (mudharabah). Sedangkan pada asuransi konvensional memakai bunga (riba) sebagai landasan  perhitungan investasi.
4) Kepemilikan dana pada asuransi syari’ah merupakan hak peserta. Perusahaan hanya sebagai pemegang amanah untuk mengelolanya. Pada asuransi konvensional, dana yang disetor  nasabah (premi) menjadi milik perusahaan, sehingga perusahaan bebas  mengelola dan menentukan alokasi investasinya.
5) Dalam mekanismenya, asuransi syari’ah tidak mengenal dana hangus seperti terdapat  pada asuransi konvensional. Jika pada masa  kontrak peserta tidak dapat  melanjutkan pembayaran premi dan ingin mengundurkan diri sebelum masa reversing period, maka dana yang disetor dapat diambil kembali, kecuali sebagian dana kecil  yang telah diniatkan untuk tabarru’.
6) Pembayaran klaim pada asuransi syari’ah diambil dari dana tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta yang sejak awal telah diikhlaskan  bahwa ada penyisihan dana yang akan dipakai sebagai dana tolong menolong di antara para peserta bila terjadi musibah. Sedangkan pada asuransi konvensional pembayaran klaim diambilkan dari rekening dana perusahaan.
7) Pembagian keuntungan pada asuransi syari’ah dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil dengan proporsi yang telah ditentukan. Sedangkan  pada asuransi konvensional seluruh keuntungan menjadi hak milik perusahaan.

Peluang mahasiswa
Perkembangan asuransi syariah yang membooming akhir-akhir ini  sejalan dengan perkembangan ekonomi syari‘ah telah mendorong  munculnya berbagai produk-produk  bidang perbankan, asuransi, lembaga asosiasi, lembaga pendidikan dan konsultasi dan lembaga penunjang lain  yang keseluruhannya berbasis syari‘ah. Selain asuransi syari‘ah sendiri yang memang sejak awal berdiri telah menerapkan prinsip syari‘ah, beberapa perusahaan asuransi konvensional juga mulai membuka unit-unit usaha asuransi syariah. Hal ini tentu menggembirakan sekaligus memberi peluang bagi mahasiswa untuk bergelut  di dalamnya. Peluang ini bisa dimanfaatkan melalui  pembentukan lembaga atau kajian-kajian khusus yang berlandaskan syari‘ah. Selain  lembaga Sharia Ekonomi Forum (SEF) yang dimiliki oleh BEM Fakultas Ekonomi UG, terdapat juga lembaga Kajian Ekonomi Syari‘ah (KAESYAR)  yang didirikan oleh mahasiswa UG guna menyalurkan minat mereka di bidang tersebut.Saat ini setidaknya tercatat dalam anggota Pusat Komunikasi Ekonomi Syari‘ah (PKES) sebanyak  50 perusahaan besar  dan lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah yang berlandaskan syari‘ah. Jumlah tersebut tentu saja akan terus bertambah seiring dengan peningkatan minat masyarakat. Dengan jumlah yang demikian besar ini, tentu membuka peluang kerja bagi mahasiswa. Berkarier di dunia asuransi syari‘ah? kenapa tidak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s